Monday, October 6, 2014

Auto Flight pada Pesawat Boeing 737 klasik

Kemajuan teknologi pesawat terbang seringkali berkaitan erat dengan faktor keamanan walaupun kadang juga bersanding dengan faktor kenyamanan dan efisiensi. Sebagaimana kita tahu bahwa pesawat terbang merupakan alat transportasi dengan sistem yang sangat kompleks sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam menerbangkannya. Kelelahan pilot dalam mengemudikan pesawat terbang bisa menjadi faktor kegagalan misi sebuah penerbangan. Apalagi kalau penerbangan memakan waktu berjam-jam. Mungkin karena alasan ini juga kemudian lahir teknologi sistem auto flight yang pada intinya meringankan beban awak kokpit yang kalau diukur barangkali hingga lebih dari 50 persen beban penerbang mampu dikurangi dengan sistem ini.

auto-pilot-pesawat
Ilustrasi Thrust Lever
Automatic Flight Control System (AFCS) atau sistem kontrol penerbangan otomatis terdiri dari tiga buah sistem yang independen. Tiga sistem tersebut adalah digital flight control system (DFCS), sistem yaw damper, serta sistem autothrottle. Digital flight control system merupakan sistem dua sumbu (pitch dan roll) yang mana menggerakkan elevator dan aileron agar secara otomatis mempertahankan ketinggian, kecepatan, dan atau memandu pesawat menuju lokasi yang telah ditunjuk, bahkan melakukan pendaratan otomatis. 

Sedangkan yaw damper system mengoperasikan rudder untuk mengoreksi “goyangan” alias goncangan yaw secara berkala. Goyangan periodik pada pesawat dideteksi dengan sebuah rate sensor di dalam yaw damper computer. Rudder digerakkan sudutnya pada saat yang tepat untuk memperkecil goyangan sebelum hal itu secara signifikan mempengaruhi lintasan terbang yang telah direncanakan. Yaw damper system dan aktuator terhubung sehingga tak ada umpan balik rudder yang menuju pedal, sehingga memungkinkan sistem ini berjalan mandiri tanpa bertentangan dengan perintah-perintah rudder yang dilakukan pilot.

Sistem Autothrottle secara otomatis memposisikan seluruh tuas thrust guna mempertahankan engine thrust level yang diperhitungkan selama take-off atau go-around, serta airspeed yang dipilih maupun FMP computed airspeed (IAS atau Mach) selama terbang jelajah. Sistem ini juga memperhitungkan dan mempertahankan kecepatan yang aman selama posisi holding dan manuver-manuver initial approach. Autothrottle system juga memperlambat tuas-tuas thrust selama mendarat otomatis. Sistem ini terdiri dari sebuah komputer yang menjalankan tuas-tuas thrust melalui integrated servo assemblies.

Nah inilah gambaran umum tentang sistem auto flight pada pesawat terbang khususnya Boeing 737 klasik yang saya rujuk dari AMM atau aircraft maintenance manual. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya terutama rekan-rekan yang secara kebetulan tengah mendalami dunia penerbangan baik dalam taraf belajar maupun baru bekerja. (diposting oleh Turwidi Buwang)


Tulisan Saya Yang Lain :